Sabtu, 15 Agustus 2009

Penerbitan Naskah Pribadi

Kalau biasanya di blog-blog yang lain menuliskan tentang solusi sebuah permasalahan, kalo gue malah meminta solusi dari semua pembaca blog gue (itu pun kalo ada, huhu).

Permasalahannya sekarang, gue punya 4 cerita novel (1 ketikan komputer rapi, dan sisanya tulisan tangan di buku SIDU--maklum, masih miskin akang--). Gue bener-bener bingung mau dikenain tuh cerita semua. Kata emak gue, bakar aja buat masak, kan lumayan irit gas. Jah, emak! Tega amat. Cerita-cerita itu kan aku buat dengan sepenuh hati, sekuat tenaga, dan setulus jiwaku (mulai lebay). Oh ya, selain 4 ono, gue juga punya lebih dari 5 judul yang belum kelar. Entah mengapa dan kenapa?

Sekarang solusinya, silakan teman-teman pembaca (sekali lagi kalau ada), ada yang bisa kasih jalan terbaik buat gue ga? Soalnya gue selalu berharap agar apa yang gue kerjakan selama ini ga sia-sia. Kata mama, udah mendingan berhenti aja nulis, ga ada hasilnya toh. Bener juga sih. Tapi gue mau apa lagi?? Gue kan kagak mau nongkrong di depan kamar mama sambil menengadah tangan meminta uang jajan tigaharian gue!! (uang jajan gue emang dikasih tiap tiga hari. 50ribu/3hari).

Contoh beberapa judul yang belum kelar adalah yang gue pajang di blog gue ini, tapi kalau yang udah selesai, pikir aja bro, masa satu novel mau gue taro di satu halaman blog. Genpor ntar loe bacanya. Entar deh, kalau sempet gue bikinin link buat downloadnya. Makanya simak terus blog gue.
Jadi postingan ini intinya minta solusi apa mengiklankan blog?? ga jelas nih orang atu. bukan orang uta lho!!! Ha ha ha ha (ala mbah surip)

Rabu, 12 Agustus 2009

Ghostminder (Penjaga Hantu : Manusia dan Hantu Bersama2 Berjuang Menjaga Keseimbangan Alam Gaib)

PROLOG

Aku melirik tidak yakin pada Irene yang memandangiku dengan penuh harap. Cawan kecil di tanganku berisi ramuan buatannya yang dapat membuatku bisa melihat makhluk halus.

“Ayo, Layla,” desaknya untuk ke sekian kalinya. “Ini demi kelanjutan kehidupan umat manusia. Memangnya kamu mau anak-cucumu nanti hidup diperbudak?” lanjutnya mantap.

Aku menggeleng padanya. Tapi aku masih belum yakin dengan ramuan hasil karyanya ini. Karena Irene, baru berusia dua puluh lima tahun dan menyatakan bahwa dia melihat ke masa depan dan dia merasakan keadaan dunia manusia di masa depan tidak seperti impian semua orang. Dan dia ingin menghadapinya dengan perjuangan sekeras-kerasnya dimulai dari hari ini. Aku mendesah pada paranormal muda di depanku ini.

Langsung kuminum habis isi dari cawan itu dengan cepat sebelum Irene berkicau lagi memohon dan merayu dengan segala jurus jitunya. Bagus. Rasanya tidak seburuk yang aku kira. Manis dengan sedikit rasa kecut.

“Bagaimana?” dia memandangku dengan mata berkilat.

“Hmm… enak. Aku suka.” Aku tersenyum kurang pasti padanya.

“Apa kau….”

“AARRGGHH,” aku memekik keras ketika sosok hitam pekat berambut keriting panjang lewat di belakang Irene.

“Ya, aku melihatnya,” kataku mengerti apa yang ingin sahabat karibku ini tanyakan.

“Bagus,” Irene tersenyum bahagia.

“Kenapa bukan kamu saja sih yang menjadi kelinci percobaannya?” aku mengajukan sedikit protes.

“Aku sudah bisa melihat hal yang kamu lihat barusan. Sudah terbiasa. Kalau aku minum ramuan itu apa memangnya yang akan terjadi padaku? Nihil yang pasti karena aku sudah bisa melakukan apa yang baru kamu lakukan,” jelasnya yang kurasa hanya berputar-putar.

Aku tersenyum pura-pura mengerti.

Tiba-tiba cahaya biru indah keluar dari bawah mejanya. Aku terpukau melihatnya. Sangat indah dan aku tidak ingin melepaskan pandanganku ini. Entah bagaimana Irene melakukannya. Tidak ada kabel, listrik atau apalah. Yang pasti ini benar-benar ajaib.

“Apa itu?” tanyaku sedikit kaget.

“Inilah cahaya yang waktu itu kuceritakan. Jadi ketika aku sudah meninggal, cahaya ini yang akan mencari orang dan membuatnya dapat melihat makhluk halus seperti dirimu sekarang,” Irene memberikan penjelasan singkat. Aku dapat faham dengan mudah karena dia sering menceritakannya kepadaku sesering aku mendatangi rumahnya yang antik seperti sekarang ini.

“Dan aku akan menamakan enam orang itu sebagai, Ghostminder,” tambahnya mantap.

“Dan aku yang pertama?” tanyaku.

Dia mengangguk mantap di hadapanku. Tanpa kusadari, muka Irene maju perlahan menjadi bertambah dekat dengan wajahku.

“Ya. Dan akan ada lima orang lagi yang akan ditemukan oleh cahaya biru ini,” pekik Irene sambil tertawa senang. Aku turut larut dalam tawa membahana di rumah besar berdinding kayu mahoni asli ini.

Seketika lima cahaya biru itu terbang bebas menembus atap dan lenyap entah kemana. Hilang. Mencari lima orang yang akan menemaniku sebagai Ghostminder.

1

Raffi

Setiap detik dari aku melihat pertama kali di muka bumi dan menghirup oksigen pertama kali dengan tangisan kerasku aku lewati di rumah ini. Rumah peninggalan kakekku yang harus disita karena hutang ayahku di bank sudah tidak dapat dibayar lagi. Dan kini semuanya pun pergi.

Untung saja ayahku tidak jadi gila dengan semua ini. Dia tetap sabar menghadapinya walau ibuku terus-menerus memakinya selama lebih dari tiga hari ini. Ibu masih tidak terima hal-hal buruk ini terjadi karena dia tahu bahwa yang melakukan korupsi di perusahaan ayah adalah tangan kanan ayah sendiri.

Aku kagum pada sosok ayahku. Dia tetap tenang, bahkan ketika ibu mengomelinya dengan cacian yang kurasa sudah hampir melewati batas normal. Ayah adalah sosok pendiam namun menghanyutkan seperti kata peribahasa. Mungkin itu salah satu tabiatnya yang diturunkan kepadaku. Ayah juga bukan orang yang pendendam sehingga dia tidak mau melakukan apa yang ibu desak setelah kasus ini terbongkar. Dan ayah juga telah menyiapkan segala yang tidak kusangka sehingga kadang aku berpikir bahwa ayah pernah ke dukun untuk melihat kehidupannya di masa depan, tapi aku yakin ayah tidak akan seperti itu. Dia adalah watak yang taat beragama. Semuanya dilakukan atas dasar Tuhan Yang Maha Esa. Dan aku bertambah kagum jadinya.

Kotak-kotak kardus kini berceceran di kamarku yang sudah tidak lagi berperabotan. Semua telah tiada selain yang sudah terbungkus rapi di dalam kardus. Komputerku yang berpentium empat, buku-bukuku, komik, perlengkapan sekolah, baju dan bola basket kesayanganku juga telah tersimpan rapi dan siap untuk diangkut ke rumah yang baru. Kata ayah rumah baru itu akan lebih dekat dengan sekolahku. Memang sayang rasanya bila harus pindah sekolah karena satu semester lagi aku akan lulus dari sekolah menengah atasku itu.

Suara menderu kencang dan bising terdengar di depan pagar rumah yang besar. Truk pembawa barangnya telah tiba. Ini hari terakhirku tinggal disini. Kenangan manis masa kecilku harus lenyap dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku merasa sedikit kecewa karena nasib yang menimpa keluargaku ini.

Seseorang langsung masuk ke kamarku. Aku langsung memalingkan wajahku dari jendela dan melihat pegawai truk itu memasuki kamarku dengan seenaknya. Atau mungkin mantan kamarku.

“Maaf. Saya kira tidak ada orang,” katanya sambil tersenyum ramah.

Aku membalas senyuman itu. Tak apa dia masuk karena aku memang sedang menunggunya masuk dan membawa semua barang-barangku yang tidak sedikit.

“Silakan angkut,” tuturku.

Lalu pria kekar itu langsung mengambil satu dari empat kardus—kecuali kardus-kardus komputer—di kamarku. Aku ikutan mengambil salah satu dan membawanya menuruni tangga melengkung mewah menuju mobil truk yang ada di depan rumah.

Ternyata tidak hanya satu pegawai truk itu. Ada sekitar tiga orang yang juga sedang mengangkut beberapa barang milik pribadi yang tidak disita oleh bank. Ayah juga mengangkat sebuah kardus yang tampak berat. Dan lagi-lagi raut mukanya masih tetap tenang, entah siapa yang telah merasukinya untuk terus bersikap tenang seperti itu. Mungkin sifat ayah yang satu ini tidak diwariskan kepadaku, karena pasti aku akan bingung, ling-lung, panik, dan tidak tahu harus apa sekarang bila aku ada di posisi ayah.

Aku telah melewati pintu bersama kardus besar dan tidak ringan yang kubawa. Truknya ada di depanku kira-kira sepuluh meter lagi. Dan dalam sepuluh menit lagi aku akan meninggalkan rumah besarku ini.

“Ada Karina di depan. Temui dia cepat terus langsung angkut barang lagi,” kata ayah ketika melewatiku dengan cepat. Bahkan dia tidak berhenti dahulu untuk mengatakannya.

Di depan pagar ada dua benda yang menarik. Yang pertama truk pembawa barang-barang keluargaku dan Karina. Jika Karina tahu aku mempersandingkan dirinya dengan truk pasti dia akan marah besar. Gadis cantik inilah yang telah menjadi bagian dalam hidupku sekaligus sejarah hidupku. Perempuan pertama yang diterima oleh hatiku yang beku. Aku tidak dapat menyangkalnya, tentang perasaanku kepadanya dan perasaannya kepadaku.

Setelah kutaruh kardus besar itu ke dalam truk sedang berwarna kuning yang terparkir rapi di depan pagar, aku langsung beralih ke Karina.

“Aku turut prihatin sama ayah kamu,” kata Karina lesu ketika aku telah berdiri tepat di depanku.

“Udah takdir mungkin,” jawabku singkat.

“Oh ya, kata kakak aku, mata kamu emang udah minus satu setengah. Jadi aku bawa ini buat kamu,” ujar Karina lembut sambil menyodorkan sebuah kotak kacamata berwarna hitam dengan tulisan beremboss emas dengan nama toko optik tempat kacamata ini dibeli.

“Makasih ya.” Aku langsung mengambil kotak itu dari tangan Karina.

“Coba pake,” pinta Karina.

“Jangan sekarang. Aku harus bantuin angkut barang dulu. Ada banyak banget,” aku menolak permintaan Karina sehalus mungkin.

“Oh. Ya udah. By the way, kamu ke rumah baru naik apa? Truk ini?” tanya Karina.

“Mungkin. Soalnya ayah nyari yang murah aja.”

“Naik mobil aku aja ya. Ayah sama mama kamu juga boleh ikut,” tawar Karina manja.

“Nggak usah. Aku tahu apa maksud ayah karena aku udah tahu gimana jalan pikiran ayah. Pasti dia juga akan nolak,” jelasku.

“Mama mau ikut kamu Karina. Daripada panas-panasan,” kata mamaku yang tiba-tiba telah ada di belakangku. “Kamu terserah deh mau ikut Mama atau papa,” tambah mama jutek.

Aku tahu bagaimana perasaan mama saat itu. Ternyata mama masih marah terhadap ayah. Tidak kusangka perselisihan ini terjadi begitu lama. Dan aku berharap mama dapat mencair dan mau memaafkan ayah.

Aku memajukan mukaku mendekati wajah putih mulus Karina. Kedua tangan kami telah berpegangan erat sedari tadi. Karina memandang terpaku kepadaku dengan penuh harap. Semakin sedikit jarak antara wajah-wajah kami, aku mendekatkan bibirku ke telinga Karina dan mulai berbisik pelan, bahkan hampir mendesah karena takut mama akan tersinggung bila mendengarnya.

“Tolong cairkan hati mama, sepertinya dia masih belum maafin ayah,” pintaku dalam bisikan.

Kemudian dengan cepat aku menjauhkan kembali wajahku dari muka Karina. Aku melihat gadis itu terpaku menatap lurus tidak bergeming.

“Kamu denger kan?” tanyaku memastikan sambil menggoyangkan genggaman tangan kami berdua.

“I… iya,” lirih Karina cepat.

“Ya udah. Aku ke dalem lagi ya,” pamitku.

Aku langsung berjalan lagi memasuki pagar dan melewati pintu besar setelah kulihat ke belakang mama dan Karina sedang berjalan bersama menuju sebuah mobil Sedan silver biru tua yang terparkir di seberang jalan perumahan tempatku tinggal sebelumnya ini.

Itulah Karina pacarku. Dia terasa sangat cerewet dan over perhatian kepadaku. Tapi aku suka hal-hal itu. Karena dia aku merasa terimbangi sebagai orang yang terkesan pelit dalam mengeluarkan kata-kata. Karina juga dapat menjadi penghiburku di saat aku sedang kesusahan. Yaa, mungkin karena aku adalah anak satu-satunya dan tidak punya tempat curhat selain ayah dan mama, tapi aku takut untuk curhat kepada mereka berdua lagipula keduanya sangat sibuk.

Karina adalah teman sekelasku di kelas satu dan dua SMA. Namun di tingkat ketiga kami terpisah kelas karena sistem pengocokan yang memang mentakdirkan kami berpisah—padahal kami sama-sama di jurusan IPA—. Tapi, bukannya bertambah jauh kami malah saling mengutarakan kata cinta dan jadilah seperti sekarang. Sudah lima bulan kami memadu kasih bersama.

Aku yang mempunyai pembendaharaan kata terbilang sedikit, mengalami kesulitan ketika akan menembaknya. Aku konsultasi ke beberapa temanku yang sudah pernah punya pacar, tapi bukannya tips-tips atau kiat-kiat manjur yang kudapat malah ejekan dan cemoohan yang membuat mentalku menjadi semakin menciut. “Kasihan banget ntar cewek loe, biarpun loe ganteng, yang terpenting itu nyambung kalo ngobrol. Lah loe kan susah kalo diajak ngobrol. Kasihan cewek loe nanti, pacaran tapi dicuekin melulu,” ejek salah satu dari mereka kepadaku. Aku langsung membuang jauh-jauh kata-kata menyakitkan itu. Alhasil, dari kelas dua aku mulai menyukainya, kelas tiga baru aku berhasil mendapatkannya sebagai kekasihku. Itu pun dengan bantuan mama yang nyerocos ketika bertemu dengan Karina dan ibunya di sebuah mall. Mama langsung berterus terang kepada mamanya Karina yang merupakan teman arisan mama tentang perasaanku sesungguhnya kepada Karina. Dan mama Karina menyambut baik kejujuran dari mama itu. Aku dan Karina waktu itu sama-sama langsung malu-malu-mau dan tersenyum kecut dengan muka merah padam.

^.^ ghost

2

Resti

Pagi mendesis di telingaku dan suara burung berkicau langsung riuh permai ketika aku membuka jendela kamar dengan enggan. Satu lagi hari yang menyebalkan menyelimuti setiap untaian benang kehidupanku yang setelah kutelaah dalam, dapat kusimpulkan satu kata, menyedihkan.

Tinggal di kamar kos satu petak kecil ukuran tiga kali tiga meter tentu bukan impianku. Siapa pula yang hendak meluangkan waktu untuk memimpikan dapat bernyanyi lepas di ruangan sesempit ini. Apalagi perabotanku sebagai perempuan tentunya tidak sedikit.

Aku bertambah tertekan sekarang. Apa yang kulakukan akhir-akhir ini bukanlah impianku yang sesungguhnya. Tinggal sendiri di Jakarta, bertarung dengan panas dan kemacetan setiap hari demi tidak ketinggalan jam di kampus, dan berebut sepotong daging ketika di pasar—agak melenceng dari topik rasanya—. Sungguh bukan yang selama ini kuharapkan. Semua ini bukan aku. Tapi orang tuaku.

Ketika hendak meniti langkah sebagai awal ke masa depan di universitas di kampung halamanku sendiri, mereka malahan menyeretku ke neraka kehidupan yang panasnya tidaklah terkira. Berjuang disini lebih-lebih daripada harus membajak sawah setiap hari di pertanian kakek yang berhektar-hektar. Sungguh menyedihkan dan memuakkan jiwa dan raga. Terlebih hati yang merasa terus tertekan.

Sebagai orang yang terpandang di Yogyakarta, ayah sudah tentu tidak ingin ada dari sekian banyak anaknya dari sekian jumlah istrinya yang akan menjatuhkan nama baiknya, Ki Ajeng Aryo Kadiningrat. Nama yang kadang membuatku tertawa sendiri, bahkan dapat juga membuatku berubah murung ketika ulahnya kepadaku sudah sangat menusuk sukmaku.

Aku berkuap sedikit memandangi suasana di luar jendela yang masih tidak jauh berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Kusam, polusi, dan bahkan asap putih di pagi hariyang mengepul selaluyang awalnya kukira adalah kabut indah layaknya di desaku dahulu.

Kutarik diriku dari hadapan jendela dan bergegas untuk segera pergi ke kampusku di kawasan depok, karena bila terlambat berangkat satu menit saja tentunya berimbas pada waktu aku sampai nantinya.

Beberapa hal yang sangat ironis di Jakarta yang sangat membuatku miris. Keterlambatan berangkat beberapa menit saja seperti menggunakan sistem perbandingan lipat ganda, nantinya tidak terlambat beberapa menit lagi bahkan bisa sampai satu jam yang menandakan kemacetan di ibukota semakin parah seiring dengan semakin naiknya jarum jam dinding.

Kuraih tas slempangku yang ada di atas kasur lantai. Tentu saja ruangan ini tidak akan muat diisi dengan kasur ranjang. Bila iya, dimana nantinya akan kuletakkan lemari pakaian dan meja riasku? Mengingat suasana dengan kasur lantai saja sudah layaknya lemari es yang sudah tiada tempat untuk sayuran baru.

Seketika kulihat ada seorang gadis kecil di pojok ruangan di samping lemari bajuku. Dia memunggungiku dan tertunduk tidak bergeming sedikitpun.

Aku mendekatinya dengan hati-hati. Sungguh sudah terbiasa aku dengan hal ini. Bahkan pernah pula kulihat ada yang berbentuk lelaki berbadan besar dengan raut muka yang sangat tidak menyenangkan, membuatku ketakutan setengah mati. Terus kudekati gadis kecil yang memakai gaun putih bersih itu.

Tangan kanan ini langsung maju perlahan mendekati pundak si anak kecil itu. Tak lama, seperti biasa aku dapat menyentuh mereka yang seharusnya tidak dapat kusentuh.

“Kamu kenapa?” tanyaku lirih.

Kepalanya langsung terangkat pasti. Perlahan kepala itu berputar sampai seratus delapan puluh derajat tapi badannya tiada bergerak sedikitpun. Aku mual melihat peristiwa itu, tapi kutahan. Ini sudah takdirku harus berurusan dengan makhluk-makhluk halus seperti yang satu ini.

Bahkan yang tambah membuatku mual muka gadis kecil itu tidaklah seperti yang kuharapkan. Lebih buruk daripada hantu kecil terakhir yang pernah kutemui. Bisa dikatakan tujuh puluh persen wajahnya sudah hancur, dan yang masih utuh hanya pipi kirinya dengan mata kecil sebelah yang berkedip manja kepadaku.

Aku terperanjat dan melejit seketika, melompat kira-kira satu meter ke belakang. Kemudian demi menjaga perasaannya kudekati lagi dengan halus.

“Aku menunggu ibu,” katanya dengan suara serak yang menakutkan. Dan sekali lagi aku sudah terbiasa dengan ini.

“Emangnya pergi kemana?”

Dia menggeleng pelan sehingga untaian daging pipi sebelah kanannya yang tergantung lemah ikut bergoyang sehingga kini gigi-gigiku saling bergemeletuk karena ngilu melihat yang seperti itu.

“Kamu disuruh nunggu disini?” aku bertanya lagi.

Kini hantu kecil itu mengangguk sehingga untaian daging itu sepertinya mulai lepas karena ayunan kepala gadis kecil itu. Kembali kutahan rasa tidak enak yang kurasakan ini.

“Ya udah. Aku mau kuliah dulu. Nggak pa-pa kok kalo kamu mau nunggu disini. Sekalian jagain rumah aku ya,” ujarku semanis mungkin karena yang kuhadapi saat ini adalah seorang anak kecil.

Hantu gadis itu tersenyum perlahan, atau mungkin kelihatan tersenyum karena bibirnya sudah tidak lagi seperti bibir pada lazimnya.

Aku berjalan ke pintu dan langsung mengunci pintu itu dengan perlahan.

“Kamu ngomong ama siapa?” tanya seseorang di belakangku ketika aku sedang mengunci pintu kamar kos-ku ini.

“Eh, enggak,” kataku sambil membalikkan badan dan terlihat sudah siapa yang berbicara dengan intonasi khas seperti itu. Akmal, sahabat masa kecilku yang Tuhan pertemukan kembali setelah sepuluh tahun tidak berjumpa. “Biasa, latihan akting,” lanjutku dengan dusta yang sudah biasa kukatakan. “Yuk.”

Akmal mengangguk mengerti dan tidak curiga sedikitpun karena aku juga masih kelompok teater di kampus untuk mengisi waktu luangku.

Kami berdua langsung berjalan keluar pagar rumah kos ini. Selanjutnya langsung masuk ke mobil Ford hitam milik Akmal. Dia memang selalu menjemputku untuk ke kampus karena kami hanya berbeda fakultas saja. Tetap satu kampus.

Itulah kebiasaanku setiap hari. Menjadi Ghostminder setidaknya mengurangi rasa bosanku dan langsung berimbas pada rasa benciku pada romo yang selalu memaksakan kehendaknya kepada setiap anaknya.

Sebagai seorang Ghostminder, hampir setiap hari aku menolong hantu yang memang butuh bantuan untuk masalah penghubungan dengan dunia nyata. Sejak empat bulan lalu, ketika Ospek kampus UI, aku telah mendapatkan kekuatan ini sehingga kini aku pun terbiasa melihat hantu-hantu atau berbagai makhluk halus lainnya yang beragam rupa dan keanehannya. Dan jujur, tentunya pada saat pertama kali melihat aku ketakutan. Namun, setelah kurasakan, ternyata asyik juga menjadi Ghostminder. Penjaga hantu, bukan pemburu hantu seperti Ghostbuster. Sangat jauh visi dan misi kami. Bertentangan.

^.^ ghost

3

Raffi

“Raf, ayah bingung harus bagaimana dengan mama kamu. Dia tidak pernah tersenyum pada ayah sejak peristiwa bank itu. Ayah harus gimana, Raffi?” tanya ayah ketika truk sudah melaju dengan kencang. Kami duduk santai di atas tumpukan barang-barang di bak belakang truk itu.

“A… aku nggak tahu, Yah. Tapi tadi aku udah bilang sama Karina buat bantuin luluhin hati mama,” jawabku sedikit ragu.

Ayah tidak menanggapi perkataanku. Sepanjang sisa perjalanan dia hanya termenung melihat ke depan jalan. Masa depan yang ada di depan mata.

Aku memperhatikannya melamun beberapa detik kemudian beralih takut-takut ayah tahu kalau aku sedang memperhatikannya.

Setahuku, ayahku adalah orang yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Dia menjadi direktur karena diwariskan perusahaan dari ayahnya alias kakekku. Mungkin ketika diangkat menjadi direktur itu adalah salah satu peristiwa terhebatnya yang pernah diceritakannya kepadaku. Selebihnya dia menjadi manusia biasa dan menjalankan bisnis perusahaan dengan aman dan lancar sesuai dengan ilmu yang didapatkannya ketika sedang kuliah di jurusan manajemen bisnis. Semua berjalan normal. Aku harap semua yang menimpaku nantinya adalah hal-hal biasa yang dapat membuatku menjalani rutinitas tanpa hambatan sedikitpun.

Akhirnya memang tidak ada sepatah kata pun keluar baik dari mulut ayah maupun bibirku. Kami berdua hanya berdiam diri di belakang truk sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah di daerah yang bisa dibilang cukup sepi.

Aku turun lebih dulu dari ayah. Memperhatikan pemandangan baruku. Di tempat inilah aku akan memulai kehidupan baru yang aku tidak tahu bagaimana. Aku melirik ke rumah kosong yang terdapat banyak rumput ilalang liar tumbuh dengan bebas. Rumahnya sederhana dan tidak berdesain arsetektur modern seperti rumahku yang sebelumnya yang mengadopsi gaya rumah modern dan eropa kelas atas. Kurasa aku akan selalu merindukan rumah itu.

Aku membuka pintu pagar rumah kusam itu tanpa kusadari dan tanpa harus kuperintahkan terlebih dahulu pada diriku sendiri. Seperti ada yang menarikku untuk lekas masuk ke dalam rumah itu.

“Raffi,” panggil ayah dari luar pagar. Aku ternyata masih sadar dan membalikkan badan. Ayah langsung melempar sebuah kunci daru luar pagar dan dengan mudah dapat kudapatkan kunci itu tanpa harus tersentuh tanah dahulu.

Naluriku semakin kuat untuk segera berada di dalam rumah yang kurasa masih kosong itu. Kumasukkan anak kunci pada lubangnya lalu membuka pintu berdaun satu itu dengan lebar. Tidak ada yang dapat menyadarkanku bahkan suara deruman Sedan silver yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Dan tidak ada komentar dalam diriku.

Tidak ada apa-apa di dalam rumah ini. Kosong, tapi bersih. Ternyata penjualnya hanya memperhatikan penampilan dalam rumah sehingga ilalang di halaman depan rumah membuat orang merasa terganggu. Dalam rumah ini sementara hanyalah ruangan berlantai putih bersih dan cat kuning yang dapat memberi kehangatan, namun sesaat lagi akan terisi penuh dengan perabotan yang jumlahnya tidaklah sedikit.

Aku memasuki rumah itu semakin dalam dan sendirian. Mungkin orang-orang di luar masih sibuk menurunkan perabotan yang akan mengisi setiap sudut rumah ini. Yang lebih kecil dan sederhana. Bahkan hanya terdiri dari satu lantai saja.

“Raf, lama banget,” seru suara wanita yaitu Karina seraya tepukan lembut di bahu kananku. “Ditungguin ayah kamu tuh diluar. Katanya kamu cuma disuruh buka pintu doank, udah masuk malah nggak balik-balik,” tambahnya dengan suara manja yang khas.

“Oh. Iya deh,” jawabku singkat dan padat.

Aku berbalik kembali berjalan menuju pintu berdaun satu di rumah baruku ini. Tepukan pada bahuku telah menyadarkanku entah dari apa, tapi yang pasti seperti ada yang menarikku sehingga aku tadi hanya berjalan menjelajahi rumah ini tanpa pemikiran yang jelas dan realistis.

Sungguh aku merasa ada sesuatu yang berbeda pada rumah baruku ini. Bukan hanya bentuk, warna, kemewahan, maupun corak arsitekturnya, berbeda dari semua hal konkrit yang ada. Sesuatu yang aneh telah hinggap di rumah ini. Aura rumah ini sungguh berbeda dengan rumahku sebelumnya yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu apa lagi, yang pasti rumah ini mempunyai sesuatu yang istimewa melebihi rumah-rumah lain yang pernah ada. Bahkan aku tidak tahu apakah nantinya aku akan nyaman tinggal dengan aura yang berbeda atau tidak. Yang pasti, aura yang terpancar membuatku terpukau tidak bergeming.

^.^ ghost

4

Raffi

Butuh waktu sekitar empat jam untuk mengangkut sekaligus menata rumah baruku ini. Ide-ide penataan rumah menurut ayah dan ibu jelas berbeda sehingga memakan waktu cukup mengejutkan hanya untuk berseteru tentang dimana sebuah bingkai foto diletakkan misalnya. Pada akhirnya, akulah yang menengahi mereka dibantu Karina menentukan peletakkan bingkai itu. Akhirnya mereka mengakhiri perang kecil itu dan melanjutkan pekerjaan.

Namun tidak berhenti disitu saja. Mereka kembali berseteru ketika ruangan kamar ayah dan ibu penuh sedangkan meja kerja ayah masih belum masuk. Kemudian Karinalah yang menjadi dewi pencegah peperangan dengan mengusulkan bahwa sebaiknya meja itu diletakkan di dekat dapur untuk meletakkan perabotan kecil karena ayah sudah tidak memakai meja itu lagi setelah dipecat secara terhormat. Aku hanya bisa menggeleng sedih dengan perlakuan mereka berdua. Padahal ada Karina, tapi mereka tetap saja tak dapat mengendalikan emosi dan berusaha berpikir jernih di saat kondisi keluarga sedang tidak menentu seperti sekarang.

“Jadi ini kamar kamu?” tanya Karina yang telah berdiri di ambang pintu kamarku. Aku berdiri di belakangnya memperhatikan kamar yang masih penuh dengan kardus barang-barangku karena kami memang belum menatanya.

“Sedikit lebih kecil mungkin dari sebelumnya,” gumamku berusaha menghibur diri karena kamar itu bahkan tidak lebih luas dari kamar pembantu yang ada di rumahku yang sebelumnya. Cukup memprihatinkan memang.

Karina memandangku dan tersenyum getir. Dia menghadapkan tubuhnya kepadaku sehingga kini kami saling berhadapan satu sama lain. Gadis cerewet itu mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya pada masing-masing sisi bahuku, merangkulku dengan mesra seperti hendak berdansa.

“Sabar ya,” ujar Karina lembut.

Aku turut tersenyum pahit menahan dilema ini. Kemudian mengangguk pelan tapi manja.

Setelah itu, Karina langsung melepas rangkulannya dengan gemulai.

“Eh, ada lubang ke loteng di kamar kamu. Nggak ditutup aja?” tanya Karina sembari mendelik ke sudut atas kamar yang berlubang dan menunjuknya dengan jemarinya yang lentik.

“Hmm, nanti aku bilang ke ayah,” ucapku berusaha untuk tetap tenang.

“Ya sudah. Sekarang kita beresin kamar kamu dulu ya,” usul Karina.

“Daripada nggak ada kerjaan lain,” balasku sambil mengangkat kedua bahuku bersamaan.

Kami pun melewati daun pintu satu yang kusam yang menutupi kamarku. Mengambil salah satu kardus, membukanya, mengais isinya, dan mencari tempat dimana kira-kira barang itu cocok untuk diletakkan.

Untunglah antara aku dan Karina tidak ada perselisihan sedikitpun, tidak seperti ayah dan ibu yang selalu mengumpat yang lainnya dengan kata-kata yang bisa dibilang kotor. Sungguh sebuah pendidikan yang buruk bila aku masih berusia enam sampai sepuluh tahun karena aku masih belum dewasa ketika berusia demikian.

^.^ ghost

5

Raffi

Aku menghirup lagi tetesan kopi hangat dengan merasakan setiap kelembutan butiran kopi. Nikmatnya merasakan kopi di malam hari yang dingin seperti ini. Walaupun di kamar baruku tidak ada AC-nya tapi hembusan angin dari luar jendela cukup membuatku tidak merasa gerah.

Baru saja aku menghidupkan komputerku yang telah kuinstalasi dengan sebaik mungkin agar tidak ada kesalahan setelah Karina pamit pulang. Katanya dia disuruh mamanya untuk segera ke rumah karena mobilnya akan dipakai, padahal terang siang telah berganti dengan gempita malam.

Komputerku telah hidup dengan sempurna. Langsung kubuka file tugas untuk semester gasal yang harus ku selesaikan selama dua minggu liburan sekolah. Dan hari ini adalah hari pertama liburan sekolah yang harus ku mulai dengan kisah yang kurang menyenangkan.

Tiba-tiba terdengar suara menderit dari seberang ruangan. Kusen jendela bergerak sedikit dan mengeluarkan suara yang membuatku langsung ngilu. Aku langsung mendelik dan melihat ternyata jendelaku telah terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Mungkin hanyalah hembusan angin malam yang cukup kencang.

Aku segera bangkit dan berjalan pelan ke jendela itu. Lebih baik kututup saja jendela itu daripada nantinya menggangguku yang sedang ingin serius mengerjakan tugas.

Setibanya di depan jendela aku melihat sesuatu yang aneh di seberang rumah. Ada rumah tetangga yang cukup gelap. Aku beralih menatap jam dinding, baru jam tujuh malam. Apa sudah ada yang tidur jam segini? Atau mungkin itu adalah rumah kosong? Ahh! Itu tidak perlu kupikirkan. Hanya mengganggu. Tapi beberapa hal yang masih dapat kulihat jelas dengan bantuan lampu jalan, rumah itu kusam dan hitam. Tampak gosong disana-sini.

Aku langsung menutup jendela dan berusaha melupakan apa saja yang kupikirkan tentang rumah tak dikenal itu. Segera aku kembali ke meja komputerku dan melanjutkan pekerjaanku yang bertumpuk untuk dua minggu ke depan.

^.^ ghost

6

Raffi

Malam sudah semakin larut. Sedari tadi kuapanku semakin besar padahal targetku untuk hari ini masih belum selesai. Akhirnya aku kalah dari rasa kantuk ini. Langsung saja komputer kumatikan dengan perlahan. Perangkat ini memang memudahkan pekerjaanku daripada menggunakan mesin tik yang tidak bisa dihapus atau di-undo. Setelah itu kuletakkan pula kacamata dari Karina yang memang sedari tadi telah kupakai.

Aku berjalan sedikit menuju kasurku di sudut ruangan. Lebih dekat dengan meja komputer daripada di kamarku yang sebelumnya. Kubaringkan ragaku diatas kasur kapuk yang kali pertama kurasakan dan sekali lagi aku menguap dengan lebar. Aku pun mulai merapatkan mata karena sudah tiada kuasa lagi untuk menahannya. Masih ada hari esok untuk melanjutkan tugasku.

Aku terpejam dan mulai terbuai dalam keheningan yang membuat semakin lelap. Tiba-tiba dibalik selaput mataku terlihat sebuah cahaya yang dapat menembus dan langsung kubuka mataku untuk melihat apa sebenarnya benda itu.

Cahaya biru kecil seperti bintang dan terang benderang. Mungkin berasal dari lubang di langit-langit kamarku tadi. Karena tidaklah mungkin itu cahaya pantulan lampu atau apalah karena warna biru yang dimilikinya sangat unik, indah dan mengagumkan. Pallete warna biru yang dapat langsung menyejukkan sukma. Membuat aku terperangah lama tidak sadar bahwa sinar itu semakin lama telah semakin dekat kepadaku.

Sinar yang menyilaukan itu bergerak perlahan-lahan dan aku seperti terhipnotis olehnya karena aku tidak bisa sedikitpun menggerakkan badan dan terkagum terus pada cahaya indah itu. Terus mendekat hingga akhirnya cahaya itu berhenti tepat di keningku. Dan… BLUP‼! Cahaya itu masuk dengan cepat ke dalam jidatku. Seketika aku langsung sadar dari tipuan hipnotis itu dan langsung terbaring lemas kembali di kasurku. Aku pun tertidur pulas kembali.

^.^ ghost

7

Resti

Keheningan malam kini sudah sangat jarang kurasakan kembali seperti ketika masih di Yogyakarta. Hiruk pikuk masih terdengar walaupun sayup-sayup dari dalam kamarku.

Aku masih belum memicikkan mata karena rasa kantuk seolah tiada lagi mau mendekati aku. Entah kenapa aku gelisah saja sedari tadi pulang dari kampus dengan Akmal. Dan aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa tidur padahal jam di dinding kamarku telah mengarah pada jam sepuluh malam. Aneh. Biasanya aku pada jam delapan saja sudah tidak berkutik di atas kasur lantaiku.

Kini rasa was-was merasukiku secara tiba-tiba dan tidak jelas mengapa bisa terjadi. Aku merasa hal yang tak pernah sekalipun kurasakan sebelum-sebelumnya. Aneh. Was-was. Cemas. Takut. Semuanya seperti menjadi satu dalam satu waktu yang membuatku semakin dan semakin gelisah tanpa ada tanda-tanda berhenti sedikitpun.

Seketika, semua terjadi begitu cepatnya. Mataku langsung terpejam dan aku telah berada di dunia kelam antah berantah. Bahkan aku tidak tahu sedang berdiri atau tidak karena semua disini benar-benar kosong. Bumi pun telah lenyap. Tidak tersisa sedikitpun. Aku hilang, atau ini hanya mimpi? Tapi kenapa aneh begini? Aku sedang berdiri dan tiba-tiba bermimpi tanpa aku membaringkan tubuhku di pembaringan pada setiap malamku.

Sebuah cahaya muncul. Biru. Terang dan menyilaukan mata. Indah dan memberikan ketenangan. Semerbak layaknya lentera di saat kegelapan sedang merajai dunia.

Cahaya itu pernah kulihat sebelumnya. Ya. Ketika aku akan menjadi Ghostminder. Sebuah cahaya muncul dan masuk melalui keningku setelah menghipnotisku dengan pancaran keindahannya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Cahaya itu tidak menggunakan sumber tenaga apapun selain keajaiban yang membuatku awalnya terpesona kemudian langsung menghardik cahaya itu dengan geram ketika aku tahu apa yang telah dilakukannya kepadaku. Aku bisa melihat makhluk halus, bahkan bisa berinteraksi dengan mereka secara verbal maupun non verbal.

Ketika itu aku datang ke rumah kos ini dengan pasang muka seribu satu cemberut karena aku masih belum menerima kenyataan aku harus kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Aku tahu banyak orang yang ingin masuk ke perguruan tinggi ini, tapi sangat disayangkan aku bukan bagian dari orang-orang itu. Aku hanya ingin kuliah di kampung halamanku sendiri. Universitas Gajah Mada. Karena disana aku tidak akan terpisah seperti ini dengan keluargaku.

Kala itu, kumasuki kamar kos yang kosong di rumah ini. Aku sedikit terhibur karena ibu kos disini baik sangat. Bahkan dia memperbolehkanku melihat-lihat dahulu kamarnya, dan dia juga terbuka sampai-sampai berkata seperti ini, “kalo nggak ada kamar yang disuka, ntar ibu anterin ke tempat kos putri lain ya.”

Aku tersenyum sipu pada wanita setengah baya itu. Akhirnya kutentukan kamar yang memang dari awal kusuka karena panorama yang nampak di jendelanya berbeda dengan kamar yang lainnya.

Kamar itu sudah berisi tiga perabotan utama sebuah kamar kos kecil. Sebuah tempat tidur lantai yang bisa dilipat dengan praktis, lemari pakaian kecil dan sebuah meja rias yang masih alpa dengan kosmetik. Tentu saja.

Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi secara mendadak. Sebuah cahaya biru muncul dengan perlahan menampakkan keanggunan cahayanya dari laci meja rias itu. Bergerak secara saksama seperti sebuah simponi yang memberi rasa syahdu dalam jiwaku yang sedang tidak menentu setibanya di Jakarta. Pinggiran Jakarta tepatnya.

Cahaya itu terus mendekat dan aku tidak bergerak sama sekali karena aku begitu terpana melihat perihal yang tidak mungkin bisa diterima oleh akal sehat. Bahkan orang gila sekalipun pasti akan berkata aku tidak waras karena menceritakan ada cahaya biru yang bergerak dan bersinar benderang tanpa listrik sedikitpun. Alami atau gaib aku juga tidak tahu.

Jaraknya sekarang tinggal satu jengkal dari keningku. Aku masih mematung sambil kedua pupil mataku menerawang ke atas terus memperhatikan cahaya aneh itu. Semua terjadi sangat cepat dan…

BLUP.

Cahaya itu masuk ke keningku. Hilang. Layaknya aku yang langsung kehilangan kesadaran karenanya.

^.^ ghost

8

Raffi

Aku membuka mata perlahan setelah cahaya itu lenyap dan masuk ke dalam kepalaku. Kususuri sekeliling dengan pandanganku yang kebingungan. Aku dimana? Disini gelap gulita. Tidak ada satupun pelita yang dapat memberiku petunjuk.

Aku berputar-putar di tempat memperhatikan ruangan besar yang kosong ini. Bahkan aku tidak tahu apakah kakiku menapak di tanah atau melayang layaknya terbang di udara. Apa ini luar angkasa? Pikiran konyol. Mana mungkin itu terjadi.

“Selamat datang Ghostminder terakhir,” seru sebuah irama suara yang merdu dan menyejukkan hati. Tapi aku tidak melihat ada raga lain di ruang hampa gulita ini.

“Siapa kamu? Dimana aku?” tanyaku berteriak. Suara kerasku ternyata tidak menimbulkan gema sedikitpun. Berarti ini adalah ruangan tidak terbatas atau sangat luas. Tapi dimana? Apa aku sedang bermimpi?

“Tidaklah penting siapa aku,” kata suara itu dengan lembut. “Sekarang kamu ada di alam bawah sadarmu karena kamu baru saja menjadi seorang Ghostminder. Penjaga Hantu,” lanjutnya masih dengan intonasi bicara yang membuat kepanikanku perlahan-lahan memudar.

“Berarti aku sedang bermimpi?”

“Hampir benar. Disini aku akan memberikanmu bimbingan awal sebagai seorang Ghostminder,” ujar suara itu dengan mulai lantang. Serius.

“Ghostminder? Lelucon apa ini hah?” gertakku kesal. Aku pasti sedang dipermainkan oleh seorang dukun iseng. Atau aku mungkin sedang diguna-guna seseorang. Cahaya itu pasti biang keladinya.

“Akan aku jelaskan,” suara itu berbicara dengan tenang. “Ghostminder adalah penjaga hantu yang bertugas sebagai penghubung antara dunia makhluk halus dengan dunia fana. Para Ghostminder akan membantu makhluk halus penasaran yang ingin dihubungkan dengan dunia manusia seperti contohnya ada seorang manusia yang ingin memberikan hadiah kepada keluarga namun dia harus mengalami kecelakaan sebelum tiba di rumahnya dan kemudian meninggal. Tugas Ghostminder adalah membantu hantu atau arwah penasaran manusia itu untuk menyampaikan amanat si hantu. Kamu mengerti?” tanya suara itu manis sekali. Bahkan lebih lembut ketika Karina sedang menggodaku dengan rayuan manjanya.

“Sedikit,” jawabku singkat. “Lalu kenapa harus aku? Ada enam milyar orang di bumi ini. Kenapa hanya aku seorang?” tanyaku dengan nada mendesak.

“Tidak hanya kamu yang menjadi Ghostminder. Ada lima orang lainnya. Satu orang mewakili satu milyar orang di dunia. Aku yakin kamu pasti mengerti,” suara itu diam sejenak, aku pun begitu. “Sebenarnya Ghostminder punya sebuah tugas khusus.”

“Dan aku juga punya tugas yang harus selesai dalam dua minggu ini,” bentakku kesal. Pekerjaan konyol ini pasti akan memakan waktu yang telah kujadwalkan untuk mengerjakan tugas sekolah.

“Tanggal 13 Januari 2006, Friday the Thirteenth, raja setan akan menyerang dunia manusia dan menghancurkan dunia ini. Kemudian dia berniat akan memperbudak seluruh manusia sebagai tanda balas dendamnya kepada keturunan Adam yang membuatnya diusir dari surga,” suara itu berkata dengan lantang, tajam dan membuatku langsung membisu seketika. Aku tidak percaya dengan semua ini. Terlebih pada tanggal yang disebut suara itu, berarti hari Jumat minggu depan.

“Bagaimana caranya aku mengalahkannya? Dia seorang raja, pasti punya bala tentara yang kuat dan sulit untuk ditaklukkan,” gugatku tidak terima.

“Kembali ke tugas awal Ghostminder. Dengan melakukan hal itu, kamu sebagai Ghostminder akan mendapatkan teman-teman dari golongan makhluk halus yang nantinya akan membantu dalam melawan bala tentara raja setan,” jawabnya tegas.

“Lalu, dimana lima Ghostminder yang lainnya? Mereka masih hidup kan?”

“Tentu saja mereka masih hidup. Selain memperbanyak teman makhluk halusmu, kamu juga harus mencari lima Ghostminder lainnya.”

“Tapi waktunya tinggal sebentar lagi.”

“Ya. Dan waktu pertemuan kita juga tinggal sebentar lagi. Waktunya akan habis,” kata suara itu dengan cepat namun tetap bisa didengar jelas oleh telingaku ini. “Ingat! Kamu cari lima Ghostminder lainnya, mereka tahu apa yang masih mengganjal di hatimu. Kamu akan melihat pemandangan menakjubkan ketika kamu membuka matamu, yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Jadi bersiaplah. Dan satu lagi, kekuatan para Ghostminder akan hilang setelah hari itu. Kesempatan hanya ada satu dan harus dipergunakan sebaik-baiknya.”

Kemudian semua kegelapan sirna sebelum aku sempat memberi komentar atas segala yang telah diberitahu oleh suara misterius itu. Di balik selaput mata yang menutupi pupil-pupil mataku terlihat sebuah sinar. Cahaya dari lampu kamarku. Aku sudah kembali ke kamarku. Dan aku sedang terbaring di ranjangku yang lembut.

Yang tadi pasti hanya mimpi buruk. Mengerikan sekali yang diberitahu oleh suara itu. Apa yang akan kulihat memangnya? Kamarku lagi? Yah, aku memang kembali ke kamarku lagi sekarang. Ghostminder adalah lelucon terburuk yang pernah ku dengar. Mana ada orang yang bisa berhubungan dengan dua dunia sekaligus. Ahh, semuanya memang hanya mimpi, termasuk cahaya biru yang mempesona itu.

Aku tersenyum dan membuka mataku. Benar. Tidak ada apa-apa. Semua yang kulihat normal. Aman-terkendali. Kunaikkan tubuhku hendak duduk di atas ranjang.

Tiba-tiba di hadapanku telah berdiri seorang wanita berambut panjang digerai ke segala arah. Dia menunduk namun aku masih bisa melihat wajahnya yang pucat putih menakutkan sewarna baju panjangnya. Ini kali pertama aku melihat penampakan. Begitu dekat karena ketika aku sudah duduk, wajahnya tepat berada di depan hidungku.

“Ghostminder, aku minta tolong padamu,” katanya dengan suara berat.

“AAHHH‼‼” teriakku keras. Dan pandangan kembali gelap, tapi tidak ada satu suarapun yang muncul dari balik kegelapan.

^.^ ghost

9

Resti

Aku tersadar dari kegelapan. Merenung sejenak mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi. Begitu cepat sampai-sampai hanya sedikit saja yang mengait di otakku.

Dalam kegelapan suara yang menderu itu kembali muncul. Suara tanpa asal-usul itu berkata kalau Ghostminder terakhir telah datang. Kini mereka sudah lengkap tinggal dikumpulkan pada waktu dan tempat yang sama guna melawan raja setan yang hendak menghancurkan dinasti manusia yang sudah tercipta sejak ribuan tahun yang lalu.

Aku tahu bahwa aku adalah Ghostminder yang kelima. Sekarang orang keenam telah ada, berarti ada orang di luar sana yang baru saja mendapatkan kekuatan untuk melihat makhluk halus dan berinteraksi dengan mereka. Andai aku bisa tahu siapa orang itu.

Tentu aku bisa. Aku dapat meminta pada salah satu teman hantuku untuk melacak dimana Ghostminder yang baru itu, beserta alamat dan kalau bisa namanya. Agar aku tahu orang itu laki-laki atau perempuan, berapa usianya dengan menerka dari mukanya yang mungkin bisa ditampakkan si hantu, dan data-data lain yang bisa ditemukan oleh hantu suruhanku itu.

Kaki ini pun langsung melangkah keluar kamar. Menuju gazebo yang ada di halaman belakang rumah kos besar ini. Malam pun sudah bertambah larut berarti semakin mencekam dan makin banyak pula makhluk halus yang berkeliaran disana-sini.

Dalam perjalanan ke gazebo di belakang rumah kos, aku memikirkan hal lain yang dibicarakan oleh suara misterius itu. Hal yang selama enam bulan setelah mendapatkan kekuatan hampir aku lupakan, padahal ini adalah salah satu misi yang diemban oleh para Ghostminder. Dan aku yakin Ghostminder lainnya juga mendapatkan pesan yang sama.

Suara itu berkata, “aku harap kamu tidak lupa dengan apa yang akan terjadi pada tanggal 13 Januari 2006 nanti. Friday the Thirteenth. Raja setan itu akan mengerahkan semua pasukannya dan menghancurkan dunia fana kalian dan akan memperbudak kalian para manusia dengan seenaknya. Bahkan sampai sangat tidak manusiawi melebihi penjajah terkejam di masa-masa yang lampau. Bersatulah kalian para Ghostminder. Kalianlah harapan para makhluk halus dan para manusia biarpun sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa!”

Aku tertegun lagi ketika seruan itu diucapkan dengan sangat lantang dan meyakinkan sehingga ketika mendengarnya aku merasa sangat bodoh karena menyepelekan hal itu selama ini. Aku tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana cara mengalahkan para prajurit raja setan dengan enam orang manusia biasa yang hanya berkekuatan bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Dan pastinya akan sulit bila diceritakan kepada manusia karena kemungkinan sedikit yang akan percaya dengan hal seperti ini. Bahkan sampai saat ini aku hampir masih mengira bahwa membuat adanya Ghostminder adalah sebuah tindakan bodoh dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Setibanya di gazebo aku duduk dengan posisi senyaman mungkin. Berharap dan menunggu datangnya sesosok makhluk halus yang tiba-tiba bergabung denganku kemudian meminta bantuan kepadaku.

Memang, Ghostminder hanya tenar di dunia makhluk halus saja. Tidak di dunia manusia. Karena bila para manusia selain Ghostminder tahu ada yang bisa menghubungkan antara dunia nyata yang fana dengan dunia makhluk gaib, mereka pasti berbondong-bondong mendatangi karena memang sifat manusia terutama di Indonesia ini sangat percaya pada hal-hal yang beraura mistik. Biarpun tidak semuanya seperti itu.

Aku harap aku tidak perlu menunggu sampai larut malam hanya untuk satu makhluk halus. Besok aku ada kuliah, namun masalah menyelamatkan dunia manusia sudah tidak bisa ditunda lagi. Waktu penyerangan tinggal hitungan hari. Aku harus bersiap-siap menghadapinya. Begitu juga dengan para Ghostminder lainnya.

^.^ ghost

10

Raffi

“Jadi, anak yang kamu lahirin sampai-sampai kamu meninggal kayak gini bukan anak dari suami kamu?” tanyaku pada sosok kuntilanak yang telah duduk di sampingku di pinggir ranjang yang nyaman.

Aku sudah mulai terbiasa dengannya. Ketakutanku pun perlahan-lahan mulai surut sehingga aku biasa saja duduk bersampingan dengannya. Bahkan tadi ada sesosok tuyul kecil yang lewat di hadapan kami dan langsung ngeluyur keluar lagi dari kamarku. Dasar tuyul tidak tahu sopan santun. Mungkin aku bisa memberikan pelajaran sopan santun kepada para makhluk halus yang mempunyai perilaku kurang beradab.

Kuntilanak itu mengangguk sedih. Aku terharu mendengar ceritanya yang cukup memilukan. Dia berkata saat dia masih hidup dia mempunyai seorang kekasih yang sangat dicintainya. Kemudian, dia hamil oleh lelaki itu di saat mereka berdua masih belum punya status suami istri. Ironisnya, saat lelaki kekasih kuntilanak ini hendak melamarnya sebagai bukti tanggung jawabnya sebagai seorang pria, si kuntilanak malah dijodohkan dengan laki-laki lain yang lebih kaya oleh kedua orang tuanya yang masih belum tahu bahwa dia hamil. Kemudian, lelaki tercinta kuntilanak ini pergi keluar pulau dan sudah tidak pernah bersua lagi sampai ajal menjemput ketika anak dari pria tercinta si kuntilanak dilahirkan dengan selamat. Berbeda dengan ibunya yang kini sudah ada di sampingku menangis pilu karena ada rahasia yang harus diketahui oleh suaminya dan keluarganya. Rahasianya yang telah dia simpan sampai satu tahun kini.

“Saya mohon, kamu mau menemui suami saya dan berkata itu bukanlah anak dia. Tapi anak dari kekasihku tercinta,” pinta kuntilanak itu tanpa memandang sedikitpun kepadaku. Mungkin dia taku nantinya aku bisa pingsan lagi.

“Baiklah,” ujarku mantap dan setuju. Kuntilanak itupun tersenyum dibalik helaian rambut panjangnya yang sedikit-banyak menutupi raut muka pucatnya yang mengerikan. “Tapi nggak hari ini ya,” kataku sambil tersenyum menyeringai. “Udah malem banget. Pasti keluarga kamu udah tidur. Nggak enak kan kalo lagi asyik-asyik tidur terus dikasih berita nggak enak kayak gini,” kutambahkan dengan beberapa alasan yang menurutkan sangat rasional dan manusiawi.

Si kuntilanak itu pun mengangguk tanda setuju. Dan dia masih kelihatan tersenyum.

^.^ ghost

11

Raffi

Matahari ternyata masih setia pada bumi hari ini, biarpun sebenarnya bumi sudah punya tambatan hatinya di setiap malam yaitu rembulan yang pesonanya semerbak melati yang ditebarkan di taman yang indah. Bumi pun ternyata memiliki dua kekasih. Namun matahari dan rembulan tetap setia kepadanya karena bumi akan mati tanpa ada keduanya atau pun bila salah satu hilang. Keharmonisan yang hilang bisa membuat segalanya berubah tragis dimana saja.

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding di kepala ranjangku. Menelaah setiap hentakan jarum jam yang telah bertandah pada pukul tujuh pagi. Hari ini ada beberapa kegiatan yang harus kulakukan. Mengerjakan tugas sekolah dan membantu si kuntilanak tragis itu. Aku masih meringis ketika mengingat lagi cerita cintanya yang begitu rumit. Kadang aku berpikir dimana lelaki bertanggung jawab yang tidak dapat menjadi suaminya itu ya? Padahal aku tahu kalau dia yang menjadi suami si kuntilanak, kemungkinan semua tidak akan berakibat seperti ini.

Pintu kamarku menderit dan perlahan-lahan menampakkan wajah yang sangat kucintai. Terlebih setelah aku mendengar cerita si kuntilanak. Aku semakin bertambah sayang pada ibuku karena aku sadar tidaklah mudah untuk mengeluarkan aku ke muka bumi ini.

Aku meloncat turun dari tempat tidur. Menghampiri mamaku dengan manja. Kemudian memeluknya dengan cepat ketika seluruh tubuhnya telah tampak jelas di ambang pintu.

“Kamu kenapa sih. Kok aneh begini tingkahnya?” tanya mamaku kebingungan.

“Nggak. Aku lagi pengen meluk Mama aja,” desahku sambil tersenyum jahil.

Kemudian aku melepas pelukanku dan tetap memasang senyum bahagia ke hadapan mamaku yang air mukanya masih keheranan.

“Sudah. Sekarang sarapan dulu. Cepat, sebelum papa kamu keburu pergi,” katanya sedikit membentak. Tapi aku tahu itu dilakukan karena sayang tentunya.

Aku menurut dan mengikuti langkah ibuku dari belakang. Tidak sejauh di rumah dahulu jarak antara kamarku dengan ruang makan. Mungkin ini adalah salah satu keuntungan mempunyai rumah kecil. Tenaga jadi lebih irit dalam hal pengeluaran.

Ayah ternyata sudah duduk di meja makan dengan kemeja coklatnya. Dia tersenyum melihat kedatanganku dan mama. Aku tak tahu apa arti senyum itu sedikit pun, tapi senyum itu membuatku semakin bangga pada ayah karena ketegaran hatinya menghadapi cobaan yang berat ini. Aku jadi ingin melakukan sesuatu yang berarti pada dirinya, tapi aku masih belum tahu apa.

Satu kejanggalan yang kulihat pada diri ayah. Kenapa dia mengenakan kemeja rapi? Bukannya dia sudah dipecat dari jabatannya yang dahulu karena kasus korupsi itu? Kemana ayah akan pergi sekarang?

Aku duduk seraya membalas senyuman ayah dengan tulus. Namun masih ada guratan ragu di lubuk hatiku tentang senyuman misteri itu. Apa sebenarnya ramuan ayah sehingga dia masih bisa berdiri tegar di atas terjangan tsunami dan goncangan sepuluh skala richter gempa bumi? Aku kagum padamu ayah. Bisikku dalam hati yang sedikit pilu melihat keadaan ayah.

“Ayah mau kemana?” tanyaku sedikit ditahan, aku takut ayah marah karena menanyakan hal yang tidak seharusnya aku tahu. Tapi aku ingin tahu.

“Cari kerja,” jawab ayah lembut.

“Emang Ayah nggak ada niatan sedikitpun buat berunding dengan tangan kanan Ayah itu? Kan yang salah dia, bukan Ayah,” gerutuku. Tapi ayah masih tetap tersenyum padaku walaupun ibu yang ada di seberang meja cemberut ketika aku melirikkan mata sekejap padanya.

“Nggak. Kalau Ayah lakukan itu, nanti yang timbul malah balas dendam dan balas dendam terus, Nak. Itu nggak baik,” tutur ayah layaknya sebuah simponi yang langsung menyadarkanku dari kekhilafan yang membuatku sedikit tersesat dari jalan kebenaran. “Lagipula, semua yang ada di bumi ini terdapat hubungan timbal balik. Siapa yang berbuat salah, pasti dia yang akan mendera akibatnya walaupun dalam jangka waktu berbeda-beda dan macam-macam akibatnya itu tidaklah selalu sama. Sama seperti hubungan memberi dan diberi, apa yang kita beri tidak bisa sama dengan apa yang diberikan kepada kita. Itu semua hubungan timbal balik, Raf.” Ayah melanjutkan dengan irama melankolis yang membuatku terpesona dan tidak mengedipkan mata ini untuk sepersekian detik. Aku semakin kagum pada sosok pria dewasa di hadapanku ini. Aku bangga punya ayah seperti dia.

Tiba-tiba aku tersadar setelah mendengar perkataan ayah barusan. Apa yang kita beri tidak bisa sama dengan apa yang diberikan kepada kita. Hubungan timbal balik. Tentu saja. Aku akhirnya menemukan cara bagaimana mengembalikan senyum ayah yang sesungguhnya. Bukan senyum diatas tangisan yang dapat membuatku miris bila aku tahu sebenarnya ayah memang melakukannya agar membuatku tidak jatuh percaya diri. Bahkan rencanaku ini juga dapat mengembalikan kepercayaan mama yang sedikit-banyak telah memudar di hatinya terhadap ayah. Semua akan kembali normal walau ada keraguan apakah rumahku juga akan kembali normal. Siapa yang berbuat, dialah yang akan mendera akibatnya.

^.^ ghost

12

Resti

Mata yang terpicik berjam-jam terbuka perlahan-lahan seperti daun putri malu yang telah disentuh membuka lagi karena malunya telah memudar, hanya memudar, tidak hilang. Aroma rumput begitu menggoda sehingga tarikan nafas ini seperti tidak mau berhenti. Padang basah lembab di belakang gedung yang bernama rumah kos putri ini begitu indah di pagi hari.

Aku terkesiap dan terjaga langsung. Tidak. Aku tertidur di gazebo semalaman tanpa ada yang melihat dan tahu. Huh, kenapa makhluk halus lama sekali untuk muncul ketika hendak ditemui, tapi selalu ada dimana-mana ketika sedang tidak dibutuhkan. Matahari sudah terbit menandakan jam dinding di kamarku pasti sudah bertunjuk pada pukul enam pagi lewat. Atau bahkan pukul tujuh. Entahlah.

Langsung saja kulangkahkah kaki ini keluar dari gazebo dan segera kembali ke kamar kosku sebelum ada yang melihat. Sangat memalukan jika ada yang tahu aku semalaman tidur di gazebo. Apalagi alasan yang akan kuutarakan pasti dianggap konyol, bahkan oleh Aldo sekalipun. Aku bersumpah tidak akan menceritakannya kepada siapapun di dunia ini.

“Res, tumben pagi-pagi udah ada di halaman belakang? Biasanya kan loe masih ngorok,” tanya seorang teman kos putriku sambil tersenyum mengejek. Tapi aku tidak tahu sebenarnya dia itu mengetahui atau tidak tragedi yang baru saja kualami.

“Hehe,” aku tersenyum memaksa. “Iseng aja,” tambahku. “Duluan ya.”

Dalam sekejap aku langsung berlari kencang meninggalkan latar belakang gazebo itu. Aku tidak mau dia semakin curiga dan kemudian menuduhku bertindak konyol semalaman. Walaupun itu memang benar.

^.^ ghost

13

Raffi

Mobil hilir mudik di jalan raya yang tidaklah sepi. Hari ini adalah hari kerja, tapi merupakan liburan cukup panjang yang tidak boleh disia-siakan oleh pelajar di seluruh penjuru kota Jakarta. Selasa pagi, pukul sepuluh, ternyata masih banyak orang yang baru berangkat ke tempat mencari nafkah untuk mempertahankan hidup setiap harinya.

Aku kini sedang melangkahkan kaki menuju sebuah supermarket yang berada dekat di luar perumahanku yang baru. Jadi tidak perlu menggunakan mobil seperti ketika di rumah yang dahulu. Lagipula sekarang mobil itu pun telah tiada dan berganti dengan sebuah motor bebek yang telah digunakan ayah untuk pergi melancongi Jakarta mencari pekerjaan demi sesuap nasi bagi aku dan mama. Oh, aku harap dia dapat mendapatkan pekerjaan yang layak dengan cepat.

Supermarket itu lumayan besar karena berada di sebuah plaza yang terkenal di Jakarta. Aku memasukinya dengan santai dan langsung membeli barang-barang yang telah ditulis mamaku di secarik kertas. Kini pastinya mama sedang masak di rumah.

Tidaklah lama aku berada di supermarket itu karena ada tugas yang harus ku selesaikan. Dan nanti sore aku akan memulai pekerjaanku sebagai Ghostminder dengan mencari keluarga si kuntilanak itu. Awalnya aku hendak berangkat pagi saja, tapi kuntilanak itu berkata suaminya pasti sedang bekerja dan anaknya tentunya dititipkan pada ibu si kuntilanak yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah si kuntilanak. Dia berkata juga kalau lebih enak bila membicarakan masalah ini dengan suaminya saja. Ya sudahlah. Aku mengikuti perkataannya dan akan berangkat nanti sore. Aku ingin ayah telah pulang sehingga aku bisa meminjam sepeda motornya daripada naik kendaraan umum.

Sekarang kakiku telah kembali berpijak pada trotoar perumahan kecil yang ada di sudut ibukota ini. Beberapa ratus meter lagi aku akan tiba di rumah dan akan langsung menghidupkan komputerku, dan langsung melanjutkan tugas liburanku.

Tiba-tiba aku melihat ada seorang perempuan sedang berdiri di depan pagar rumah yang ada tepat di samping rumahku. Rumah yang aku lihat semalam. Apa mungkin dialah penghuni dari rumah itu? Kenapa semalam lampunya tidak hidup sama sekali. Gulita.

“Permisi,” kataku sopan ketika lewat di hadapannya.

“Jadi kamu yang terakhir ya?” tanya perempuan itu dengan dentuman yang membuatku sedikit kaget. Aku berbalik memandangnya heran. Apa maksud dari pertanyaannya barusan?

“Kamu Ghostminder terakhir itu kan?” ulangnya membuatku mengernyitkan dahi semakin kebingungan. Darimana dia tahu tentang Ghostminder? Bukankah orang-orang Ghostminder hanya dikenal oleh kalangan makhluk halus? Kenapa dia manusia juga tahu? Atau jangan-jangan…. “Aku Irene. Ghostminder sama sepertimu,” sambungnya seperti dia dapat menerka raut mukaku yang keheranan.

“Darimana kamu tahu aku juga seorang Ghostminder? Apa setiap Ghostminder ada ikatan batin tertentu?” tanyaku masih risih.

“Datanglah ke rumahku setelah meletakkan belanjaanmu itu,” katanya seraya mendelik pada kantong kresek putih di tangan kananku. “Aku akan menjelaskan semuanya. Terutama tentang yang kamu belum tahu dari Ghostminder,” tambahnya.

Kemudian perempuan yang dari wajahnya tampak sebaya denganku itu membalikkan badannya dan masuk ke dalam pagar rumah kuno itu. Rumah dengan arsitektural tua.

Aku pun turut mengembalikan posisi badanku menuju rumahku kembali. Melangkah dengan cepat agar cepat pula aku kembali dan bergabung dengan wanita yang sedikit misterius itu.

“Ma, aku keluar sebentar, ya,” ujarku dengan cepat seraya meletakkan barang belanjaan di meja makan. Benar saja, mama memang sedang memasak di rumah.

“Kemana?” tanya mama singkat.

“Ke rumah sebelah,” kataku. “Boleh kan?”

“Ya sudah. Bagus deh kalo kamu udah dapet temen,” kata mama sambil tersenyum senang. Aku mengerti kenapa dia berkata seperti itu. Mama tahu aku ini orangnya sangat pendiam, dan sebuah mukjizat bila aku telah mendapatkan teman baru padahal baru satu hari pindah.

“Da, Ma,” tuturku kemudian.

Dengan cepat aku telah keluar dari dapur rumah dan telah berada di luar pagar rumah baruku ini. Kemudian berbelok ke kiri menuju rumah Irene. Gadis yang baru beberapa menit lalu secara tidak sengaja telah menjadi temanku. Hanya karena dia juga seorang Ghostminder, tetapi dia sudah terlebih dahulu daripada aku.

Pagar rumah itu terbuka mungkin menandakan bahwa dia sudah mempersilakan padaku untuk langsung masuk karena memang tadi kulihat sendiri dia telah memasuki rumah kunonya itu.

Aku melangkahkan kaki ini perlahan memasuki pekarangan rumah Irene yang sangat berbeda dengan rumahku yang hijau. Disini semua tampak kering. Rumput-rumput berwarna kuning kecoklatan. Entah masih hidup atau hanya tinggal menjadi pajangan tiada berguna.

Pintu berdaun dua dengan ikuran kayu kuno kini ada di depan mukaku. Ku angkat tanganku dan mulai mengetuk pintu itu dengan perlahan.

Tok … tok … tok.

“Masuk Raf, pintunya nggak dikunci,” sebuah suara lembut bergelombang mendayu sampai menggetarkan kedua gendang telingaku.

Kuraih gagang pintu bulat dari salah satu daun pintu dan mendorong pintu itu dengan sangat berhati-hati karena aku tidak mau menimbulkan suara menderit yang bisa saja membuat beberapa orang merasa ngilu bila mendengarnya. Walaupun aku tidak pernah merasakan hal itu.

Pintu itu kembali kututup dengan sama hati-hatinya. Ternyata Irene sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang depan itu. Tentunya itu menandakan dia langsung menungguku setelah pertemuan singkat kami beberapa menit lalu.

“Silakan duduk,” katanya sambil tersenyum manis padaku.

Kemudian aku duduk di sofa yang berbeda dari Irene. Aku memang harus menjaga jarak dari wanita yang baru saja kukenal. Aku takut nantinya tiba-tiba saja ada Karina dan melihatku dekat-dekat dengan perempuan yang juga cantik rupawan ini.

Aku tersenyum sedikit pada Irene yang tampaknya masih belum menghilangkan senyumannya sedari tadi.

“Kok kamu tahu namaku Raffi?” tanyaku memulai pembicaraan dengan sedikit keanehan yang baru saja kurasakan ini. “Perasaan aku belum ngasih tahu namaku ke kamu,” tambahku memberi sedikit penjelasan lagi.

Dia tersenyum sehingga membuatnya semakin manis. Aku jadi tidak tahan bila berlama-lama disini. Aku canggung bila berbicara pada seorang gadis. Aku tidaklah sepandai teman-temanku yang sudah pernah bercinta lebih dari sekali, aku ini Raffi, cowok pendiam yang tidak jago dalam hal percintaan. Bahkan untuk mendapatkan Karina aku harus mempersiapkan mental berminggu-minggu, tapi malah mamaku yang dengan seenaknya langsung berkata pada mamanya Karina.

“Seorang Ghostminder yang lebih dulu, akan mendapatkan kabar kalau ada kedatangan seorang Ghostminder termasuk dapat tahu siapa namanya. Itu yang kualami dan juga empat Ghostminder yang sudah ada lainnya,” Irene memberi sedikit penjelasan panjang. Namun masih tetap membuatku ragu.

Kuterima saja argumen dari Irene itu. Lagipula aku kesini bukan untuk berdebat melainkan untuk belajar lebih banyak tentang Ghostminder. Aku benar-benar masih belum mengerti secara pasti apa yang akan kulakukan sebagai tugasku selain membantu para makhluk halus.

“Sejak kapan kamu udah menjadi Ghostminder?” tanyaku lagi.

“Hmm,” Irene berpikir sejenak sambil menerawang ke langit-langit rumah kuno itu. “Kira-kira tiga tahun yang lalu,” tambahnya kemudian.

Aku diam tidak tahu harus bertanya apa lagi. Sudah kukatakan, aku memang sulit untuk berbincang-bincang apalagi dengan orang yang baru saja dikenal. Kemungkinan besar aku akan banyak omong apabila lawan bicaraku lebih aktif daripada aku.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ujarku setelah menemukan bahan obrolan yang dapat menghapuskan kesunyian di antara kami berdua. “Siapa sebenarnya yang telah menciptakan Ghostminder? Kenapa rasanya dia begitu peduli?”

“Ghostminder tidak diciptakan, tetapi ditemukan. Para Ghostminder layaknya intan permata yang paling berharga yang tidak dapat dibuat dengan kemampuan manusia manapun, tetapi dapat ditemukan dengan usaha dan kerja keras. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan yang berada di atas, karena hanya Dia yang bisa membuat segalanya hidup,” terang Irene panjang lebar.

Jelas aku masih kurang puas dengan jawaban itu. Kemudian kupikirkan pertanyaan lain yang masih menyangkut dengan kerancuan yang ada di dalam hatiku. Aku harus mengerti semuanya agar aku bisa bertugas tanpa rasa bimbang sedikitpun.

“Aku ke belakang dulu, mau ambil minum,” pamit Irene sebelum aku sempat mengajukan pertanyaanku yang selanjutnya.

Lalu gadis itu meninggalkan sofanya berjalan menuju ke dalam rumah. Sekarang aku sendiri dan masih memikirkan beberapa pertanyaan lagi yang akan kutanyakan pada Irene sebagai seniorku di Ghostminder ini.

Aku teringat dengan apa yang diperintahkan oleh suara dalam gelap tadi malam. Dia menyuruhku untuk mencari lima Ghostminder lainnya. Satu sudah ketemu, berarti masih ada empat lagi yang keberadaannya aku tidak tahu sama sekali ada dimana. Aku masih tidak tahu bagaimana aku akan mencari Ghostminder yang lain itu? Irene masih belum menjawab pertanyaanku tentang ikatan batin yang dimiliki oleh setiap Ghostminder pada Ghostminder yang lain. Bila iya, kenapa aku tidak merasakan apa-apa ketika berpapasan dengannya. Apa karena aku masih baru? Ahh, bodoh sekali aku ini. Kenapa ketika Irene sedang ke belakang malah ribuan pertanyaan mengalir deras begitu saja, tapi ketika ada Irene di hadapanku malah mulutku mengatup seolah aku sudah mengerti semua yang harus dipahami oleh Ghostminder, terutama yang masih awam sepertiku.

Sekejap kulupakan saja semua pertanyaan yang tertahan di otakku. Aku tidak mau stress hanya karena masalah sepele seperti ini. Kukelilingi pandangan di ruang depan rumah Irene itu. Begitu elegan dan kuno, tapi bisa membuatku nyaman berada disini. Ada beberapa bingkai foto dari kayu berukir yang tertempel rapi di tembok. Tidak hanya satu-dua, tapi ada puluhan mungkin. Tertempel di setiap sisi dinding ruang depan ini.

Kulihat juga ada sebuah pisau belati berujung bengkok yang unik. Seperti senjata tradisional salah satu provinsi di negeri ini. Entah dimana. Tapi pisau itu digantung rapi sejajar dengan beberapa lukisan berwarna kuning kecoklatan yang membuatku merasa seperti sedang berada di dunia koboi yang penuh dengan aroma kegersangan, coklat kekuningan. Namun rasa nyaman malah makin merekah syahdu masuk lembut ke dalam sukma batinku.

Irene muncul dengan langkah gemulai dari ruang dalam. Di tangannya dia membawa nampan coklat kayu berukiran usia pohon yang di atasnya ada dua cangkir teh yang mengepulkan asap menandakan teh itu masih hangat. Lalu dia meletakkan salah satunya di bagian meja yang dekat dengan tempat aku duduk.

“Silakan diminum,” kata Irene lembut yang setelah itu duduk lagi di sofa tempat dia duduk semula.

Aku mengangguk malu sambil tersenyum dingin.

“Udah ada pertanyaan lagi?” Irene sepertinya mengerti dengan tingkahku sebelum mengambilkan teh. Dia tahu aku sedang kebingungan dengan apa yang harus kutanyakan padanya. Aku tersipu malu padanya. Menundukkan wajah, seketika kemudian mengangkat kepala lantang layaknya seorang pria sejati.

“Jadi, siapa yang membuat sinar biru itu? Sinar itu ‘kan yang menemukan Ghostminder? Seperti yang kamu bilang tadi,” aku mulai bersuara tegas kemudian menantikan satu jawaban berarti yang dapat melegakan sepucuk ruang di hatiku ini.

Irene sedikit ragu sebelum berkata. Aku mengernyitkan dahi sambil terus menatap kedua matanya tanpa berpaling sedikitpun. Ayo jawab Irene, desakku dalam hati yang tentu saja Irene tidak bisa mendengarnya.

“Yang aku dengar, dia seorang paranormal. Dia melihat ke masa depan bahwa tanggal 13 Januari 2006 itu akan ada kekacauan besar di dunia manusia. Karena itu dia membuat antisipasi akan bencana mengerikan itu dimulai dari saat dia masih hidup,” jawab Irene. Aku merasa ada keraguan dalam dirinya. Kemudian kusingkirkan saja rasa itu karena aku percaya padanya. Toh memang dia sudah jadi Ghostminder jauh sebelum aku.

“Berarti sekarang dia sudah meninggal?” tanyaku lagi.

Irene mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk entah kenapa.

“Oh ya, apa kamu sudah bertemu dengan empat orang Ghostminder selain kamu dan aku?” kini pertanyaan yang terpendam dalam batinku mulai mengalir perlahan seiring terbawa suasana. Aku lama-lama pasti terbiasa seperti terbiasa melihat makhluk halus yang hilir mudik seenaknya. Bahkan tadi ada seorang kakek tua yang berdiri di belakang Irene, namun aku hanya mendiamkannya saja.

Irene menggeleng pelan. Aku terkejut dengan jawabannya.

“Lho, bukannya kita disuruh untuk mencari Ghostminder lainnya? Apa kamu memang nggak pernah mencari?” tuduhku. Aku tidak senang bila hanya aku yang mencari. Para Ghostminder harusnya punya kesadaran untuk menyelamatkan dunia manusia yang sedang berada dalam ancaman yang besar. Mereka harus mencari ‘teman’. Seperti yang akan kulakukan walaupun aku belum tahu bagaimana caranya.

“Tidak, bukan seperti dugaanmu,” Irene membela dirinya dengan sedih. Mungkin dia tidak suka aku tuduh seperti tadi. “Aku sudah meminta tolong pada salah satu teman hantuku untuk mencari Ghostminder lainnya. Dan aku sudah mendapatkan satu disini,” sambungnya.

“Maafkan aku,” kataku dengan nada penyesalan mendalam.

“Nggak apa-apa. Minum dulu tehnya,” ujar Irene yang tampaknya ingin mengalihkan pembicaraan tidak segar kami barusan.

Aku tersenyum. Ternyata dia tidak marah seperti yang aku takutkan. Dia benar-benar berhati lapang. Aku suka dengan sikapnya itu. Berbeda dengan gadis lain yang pernah dekat denganku, bahkan dengan gadis yang sekarang paling dekat denganku. Karina. Jelas mereka berdua adalah sosok yang berbeda. Sangat berbeda.

Selanjutnya, pembicaraan kami hanya sedikit yang menyinggung tentang Ghostminder dan Friday the Thirteenth. Kami lebih banyak mengulas tentang kehidupan kami masing-masing. Aku bahkan menceritakan masalah keluargaku yang sedang terjadi. Entah kenapa aku bisa terbuka begitu saja dengan gadis ini. Padahal kami baru kenal.

Irene juga menceritakan bahwa dia tinggal sendirian di rumah peninggalan neneknya itu karena dia sekolah di sebuah SMA swasta yang ada di dekat SMA-ku yang bertitel negeri. Orang tuanya ada di Surabaya dan kerabat terdekatnya yang tinggal di Jakarta hanya ada pamannya yang rumahnya di kawasan Tanjung Priok. Cukup jauh dari tempatnya sekarang.

^.^ ghost

14

Resti

Kembali lagi ke kampus yang tidak pernah ku harapkan. Walaupun jurusan yang ku pilih memang sesuai dengan kemauanku, tapi berada jauh dari orang yang disayang tentunya tidak mudah dan rasa kesepian pasti akan terus menyelimuti segenap relung di hati.

Sekarang aku sedang duduk dengan manis buatan di kursi satu berpapan di bagian muka sebagai meja. Tentu saja luas papan itu tidak seperti yang ku harapkan. Aku tidak hanya mengeluarkan satu buku ketika dalam satu pelajaran diklat. Ada buku tulis, buku cetak, dan ada juga buku referensi pelajaran yang kucari sendiri di toko buku. Bahkan ada pula dosen yang memerintahkan setiap mahasiswa untuk memisahkan antara buku catatan dan buku tugas. Pastinya sudah bisa terhitung kira-kira berapakah luas meja yang kubutuhkan. Ini benar-benar tidaklah cukup.

Seorang dosen berusia diatas lima puluh tahun yang bergelar profesor sedang mengajar di depan kelas. Aku yang duduk di bagian tengah barisan hanya memandangnya dengan bosan. Sungguh aku tidak tertarik pada pelajarannya. Terpaksa aku ambil hanya demi memenuhi target SKS permahasiswanya. Dan sengaja aku ambil di semester awal, agar pada semester akhir aku tidak resah dengan pelajarannya yang membuat kepalaku hampir pecah padahal aku sedang membuat skripsi pada tahun itu. Masih lama tentunya.

Tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku tidak berkedip memandang ke depan ruang kelas. Yang aku cari dari semalam kini ada di kelasku. Makhluk halus yang bisa membantuku dan mungkin aku juga bisa membantunya jika dia punya masalah dengan dunia nyata. Dia adalah seorang hantu lelaki bertubuh tegap kekar. Mengenakan jaket kulit hitam yang persis dengan yang aku lihat di TV pada acara tentang gangstar. Tapi wajahnya mengerikan dengan goretan pisau dengan panjang lebih dari sepuluh sentimeter di pipi kanannya, dan baju di balik jaketnya sudah terkoyak dan rusak. Kaos itu sudah sobek disana-sini. Mungkin dia meninggal karena dikeroyok oleh sekelompok orang, kesimpulanku setelah puas memandangi hantu lelaki itu.

Kemudian dia menghadapkan tubuhnya ke samping dan berjalan, dan hilang menembus pintu masuk ruang kelas itu.

Aku tidak mau menyiakan dirinya. Sulit untuk mencari makhluk halus yang mau membantu, biarpun aku seorang Ghostminder sekalipun yang dikira banyak menolong para hantu, ternyata juga ada berita-berita miring yang tersebar di dunia gaib. Aku langsung risih ketika mendengarnya langsung dari gadis kecil yang kemarin menunggu ibunya di kamar kosku. Dia sudah jadi temanku. Aku pernah membantunya dan dia juga pernah membantuku.

Kembali ke makhluk halus berjaket kulit itu. Aku melirik jam di tanganku. Ahh, waktu pelajaran membosankan ini masik setengah jam lagi. Aku takut nantinya hantu itu malah sudah tiada. Pergi mungkin ke Ghostminder lainnya.

Aku pun bangkit dari tempat dudukku. Semua seketika langsung mengalihkan pandangan ke arahku. Kini aku tahu bukan cuma aku yang jenuh disini.

“Ada apa Resti?” tanya dosenku itu dari depan. Aku masih belum sempat melangkahkan kaki kecilku maju ke hadapannya.

“Saya … mau ke belakang, Prof,” ujarku sedikit menahan malu. Aku berbicara hendak ke toilet kepada sang dosen dari jauh sehingga teman-temanku yang lain tentunya dapat mendengarnya.

Kemudian ku dengar suara bisik-bisik tertawa yang membuat mukaku dalam sekejap saja telah menjadi merah padam. Aku malu.

“Silakan,” tutur dosen membosankan itu sambil mengangkat tangan kanannya setengah menunjukkan pintu keluar kelas dengan telapak tangannya.

“Terima kasih, Prof,” balasku.

Aku bergegas pergi keluar kelas tanpa barang-barangku yang kutinggalkan. Tentu saja aku akan segera kembali ke ruang kelas itu segera. Tidak mungkin kan bila ke toilet saja sampai setengah jam?

Di luar, ku lihat kiri dan kanan koridor kampus. Hantu pria besar itu ternyata berjalan pelan ke arah gudang gedung kampus ini. Aku tahu maksudnya. Dia pasti membutuhkanku dan aku juga membutuhkan dia. Simbiosis mutualisme yang telah diajarkan kepadaku sejak sekolah semenjana kini terjadi dan nyata ada padaku.

Ku ikuti dengan langkah yang biasa. Aku tahu pasti dia menunggu di gudang itu. Ruangan terpencil yang ada di sudut koridor kampus. Tentunya ruangan itu sangat sepi karena hanya cleaning service saja yang akan datang kesana. Aku memasuki gudang itu dengan perlahan.

“Aku butuh bantuanmu,” katanya pelan ketika aku hendak menutup kembali pintu gudang yang telah kumasuki ini. “Kamu harus membantuku!” dia seperti mendesakku sekarang.

“Aku tahu itu. Jadi … apa yang bisa aku bantu?” tanyaku layaknya seorang pelayan sebuah toko yang sedang melayani pelanggan dengan sepenuh hati.

“Memberikan sebuah cincin,” katanya tegas. “Aku bisa memberitahumu dimana cincin itu.”

“Maksudmu benda itu tidak bersamamu sekarang?” potongku.

“Aku kecelakaan dua minggu yang lalu ketika hendak melamar kekasihku. Cincin itu hilang entah dimana, tapi sekarang aku sudah tahu dimana dan cincin itu masih belum ada manusia yang menemukannya,” jelasnya dengan nada bicara yang pasti. “Kamu harus membantuku agar kekasihku itu tahu kalau aku menghilang karena alasam.”

“Jadi kekasihmu masih belum tahu bahwa kamu telah meninggal?” aku sedikit heran dengan ceritanya.

Dia mengangguk. Aku faham dan tidak mau memperdebatkannya lagi.

“Oh ya. Namaku Tomi. Jadi, kamu mau membantuku kan … Ghostminder?” tanyanya dengan senyuman simpul yang cukup manis bagi sesosok hantu, apalagi yang menyeramkan dan mengenakan jaket kulit hitam legam.

“Dan kamu juga harus membantuku atas ini,” seruku bersemangat dan kemudian bersalaman dengannya tanda kami sudah deal dengan sebuah perjanjian tidak tertulis.

^.^ ghost